Datang, pesan satu gelas kopi.

Kopinya mungkin habis dalam tiga puluh menit. Tapi dua jam kemudian, kita masih duduk di sana.

Kadang ngobrol, kadang buka laptop, kadang sibuk dengan HP masing-masing. Bahkan ada yang sebenarnya sudah ingin pulang, tapi obrolannya belum menemukan titik yang pas untuk diakhiri.

Kalau dipikir-pikir, kita datang ke kedai kopi karena suka kopi, atau memang sedang mencari tempat untuk nongkrong?

Pertanyaan ini terasa semakin menarik ketika melihat coffee shop yang terus bermunculan.
Di satu jalan ada satu. Belok sedikit, ada lagi. Beberapa ratus meter kemudian, ketemu lagi. Anehnya, tetap ada yang ramai.

Kopi yang Berubah Jadi Gaya Hidup

Minum kopi sebenarnya bukan kebiasaan baru, jauh sebelum istilah coffee shop terdengar di mana-mana, orang sudah terbiasa duduk di warung kopi. Pesan kopi hitam, ngobrol soal pekerjaan, bola, politik, sampai cerita tetangga.

Yang berubah mungkin bukan kebiasaan minum kopinya, melainkan cara kita menikmatinya.

Sekarang ada espresso, americano, cappuccino, latte, manual brew, sampai es kopi susu dengan berbagai macam nama.

Tempatnya pun ikut berubah.

Ada AC, Wi-Fi, colokan listrik, playlist yang dipilih dengan serius, sampai interior yang membuat tangan refleks membuka kamera.

Kopi perlahan bukan cuma menjadi minuman.

Ia menjadi bagian dari gaya hidup.

Lucunya, tidak semua orang yang datang ke coffee shop benar-benar suka kopi.
Ada yang pesan matcha.
Ada yang pesan cokelat.
Ada yang pesan teh.
Ada juga yang melihat menu cukup lama, lalu akhirnya bertanya,
“Air mineral aja ada?”
Tapi tetap saja kita menyebutnya: ngopi.

“Ngopi Yuk” Kadang Tidak Ada Hubungannya dengan Kopi

Coba perhatikan bagaimana kita mengajak seseorang bertemu. Jarang ada yang bilang,
“Besok pukul tujuh malam kita bertemu untuk berbicara selama dua jam, yuk.”
Terlalu formal!.

Jauh lebih gampang bilang:
“Ngopi yuk.”

Dua kata itu bisa berarti banyak hal.
Mau cerita.
Mau curhat.
Mau bahas kerjaan.
Mau kenalan.
Mau reuni.
Mau ketemu calon klien, ataumemang
cuma ingin keluar rumah.

Kopi akhirnya menjadi semacam alasan universal untuk bertemu.
Tidak terlalu formal seperti makan malam. Tidak membutuhkan acara khusus. Tinggal tentukan tempat, pesan sesuatu, lalu duduk, sisanya biarkan obrolan yang bekerja.

Mungkin yang Kita Beli Bukan Cuma Kopi

Kita semua tahu membuat kopi sendiri di rumah jauh lebih murah. Tapi kita tetap pergi ke kedai. Karena mungkin sejak awal yang kita bayar memang bukan hanya isi gelasnya.

Kita membayar kursi yang nyaman.

AC yang dingin.
Wi-Fi.
Colokan listrik.
Musik, dan
Suasana yang membuat kita betah berada di luar rumah tanpa harus punya urusan tertentu.

Dalam kehidupan perkotaan, ada istilah third place.

Rumah adalah tempat pertama, kantor atau sekolah adalah tempat kedua, lalu ada tempat ketiga: ruang untuk bertemu, bersantai, dan bersosialisasi.

Dulu tempat itu bisa berupa warung, taman, lapangan, atau teras rumah teman.

Sekarang, bagi banyak orang, coffee shop mengambil sebagian peran itu.
Di sana ada mahasiswa mengerjakan tugas.
Pekerja remote membuka laptop.
Komunitas menggabungkan dua meja.
Pasangan yang sedang first date.
Teman lama yang akhirnya bertemu setelah berbulan-bulan cuma saling membalas story.

Ada juga seseorang yang duduk sendirian dekat jendela, minumannya sudah habis, tapi sepertinya belum ingin pulang.

Mungkin itu pula alasan kenapa coffee shop terus bermunculan.Mereka bukan hanya menjual kopi, mereka menyediakan ruang.

Jadi, Kita Sebenarnya Suka Kopi atau Suka Nongkrong?

Mungkin jawabannya tidak perlu memilih salah satu. Kita bisa menyukai kopinya sekaligus menyukai semua hal yang terjadi di sekitarnya. Karena kalau tujuan kita cuma mendapatkan kafein, membuat kopi di rumah tentu jauh lebih sederhana.

Tapi ada sesuatu yang tidak bisa dibuat hanya dengan menyeduh kopi sendiri.
Teman yang tiba-tiba bilang,
“Eh, gue mau cerita sesuatu.”

Laptop yang terbuka tetapi pekerjaan tidak bertambah karena kebanyakan ngobrol. Pertemuan yang rencananya cuma satu jam, lalu tanpa sadar sudah hampir tiga jam. Atau percakapan sederhana yang beberapa tahun kemudian justru menjadi sesuatu yang kita ingat.

Jadi kalau suatu hari kita melihat coffee shop baru buka dan bertanya,
“Kok kedai kopi lagi?”
Mungkin jawabannya sederhana;

"Selama manusia masih membutuhkan tempat untuk bertemu, akan selalu ada ruang untuk tempat-tempat seperti itu".

Kopinya mungkin habis lebih dulu, tapi biasanya, kita belum ingin pulang. Sebab bisa jadi sejak awal yang kita cari memang bukan cuma kopi. Kita cuma sedang mencari tempat untuk bersua.