Sabtu sore, pekerjaan sudah selesai, cuaca lumayan bersahabat, dan rasanya enak kalau keluar sebentar. Duduk di kedai kopi, pesan minuman, lalu ngobrol sampai lupa mengecek jam, hehe.
Kamu membuka WhatsApp, menggulir daftar percakapan.
Ada teman sekolah, mantan rekan kerja, kenalan dari acara, sampai grup yang hampir setiap hari mengirim puluhan pesan.
Tapi ketika ingin mengirim, “Ngopi, yuk?”, jarimu berhenti.
Yang ini sudah lama nggak ngobrol. Yang itu mungkin sedang bersama keluarga. Yang satu lagi biasanya menghubungi soal pekerjaan. Setelah beberapa menit berpikir, aplikasi ditutup. Akhirnya berangkat sendiri, atau kembali rebahan.
Punya banyak kontak ternyata belum tentu membuat kita tahu siapa yang bisa diajak menghabiskan sore.

Dulu, bertemu teman terasa lebih mudah. Ada sekolah, kampus, atau kantor yang mempertemukan kita hampir setiap hari. Obrolan bisa dimulai dari hal-hal receh, tanya tugas, tanya pekerjaan atau bertanya mau makan siang di mana. Kita menjadi akrab lewat pertemuan kecil yang berulang, bahkan tanpa pernah merencanakannya.
Setelah rutinitas berubah, kesempatan seperti itu ikut berkurang. Ada yang pindah kota, bekerja dari rumah, menikah, atau memiliki jam kerja berbeda. Untuk bertemu satu orang saja, kadang perlu mencocokkan jadwal seperti menyusun rapat. Bedanya, rapat punya undangan kalender. Rencana ngopi sering berhenti di “nanti kita atur”.
Sementara itu, media sosial membuat kabar teman tetap lewat di depan mata. Kita tahu dia baru pindah kerja, habis liburan, atau sedang membuka usaha. Sesekali kita menyukai unggahannya. Namun, ketika ingin menyapa langsung, muncul rasa canggung karena percakapan terakhir ternyata sudah berbulan-bulan lalu.
“Tiba-tiba ngajak ketemu, aneh nggak, ya?”
“Nanti dikira ada maunya.”
“Kalau dia menolak, gimana?”
Pesan yang sebenarnya sederhana pun menjadi panjang di kepala. Kita menunggu alasan yang cukup bagus untuk menghubungi seseorang. Ulang tahun, urusan pekerjaan, atau kebetulan lewat dekat rumahnya. Keinginan untuk sekadar bertemu terasa seperti perlu dibenarkan terlebih dahulu.
Padahal, kita boleh mengatakan bahwa kita ingin ngobrol.
“Eh, sudah lama nggak ketemu. Sabtu sore aku mau ngopi sekitar jam empat. Kamu ada waktu?”
Ajakan seperti itu memberi orang lain sesuatu yang jelas untuk ditanggapi. Ada hari, waktu, dan kegiatan sederhana. Nggak perlu langsung reuni satu angkatan atau membuat grup baru yang akhirnya sibuk memilih tanggal. Cukup satu orang dulu, dengan waktu yang sama-sama memungkinkan.
Tentu, dia mungkin belum bisa. Ada pekerjaan, keluarga, atau kebutuhan untuk beristirahat. Kita boleh merasa sedikit kecewa tanpa buru-buru menyimpulkan bahwa hubungan itu sudah selesai. Kalau dia menawarkan waktu lain, obrolannya bisa dilanjutkan. Kalau belum ada tanggapan, beri ruang. Pertemanan juga membutuhkan usaha yang saling menyambut.
Selain menghubungi teman lama, kita bisa membuka kesempatan bertemu orang secara berulang. Ikut lari santai, diskusi buku, kegiatan sukarela, atau sesi kerja bersama. Pilih kegiatan yang memang kita nikmati supaya datangnya terasa ringan.
Pada pertemuan pertama, mungkin hanya sempat bertukar nama. Pertemuan berikutnya, mulai mengenali wajah. Lama-lama ada cerita yang bisa disambung: “Kemarin proyekmu jadi selesai?” atau “Minggu depan ikut lagi?” Dari percakapan kecil seperti itulah seseorang perlahan menjadi lebih akrab.
Kita nggak harus pulang dari setiap acara dengan teman baru. Ada hari ketika obrolan terasa lancar, ada juga ketika kita lebih banyak mendengarkan. Kedekatan punya waktunya sendiri. Yang bisa kita lakukan adalah menyediakan sedikit kesempatan untuk tumbuh.
Dan kalau sore ini akhirnya tetap ngopi sendiri, nikmati saja. Pesan minuman favorit, duduk dengan nyaman, baca beberapa halaman buku. Keinginan punya teman ngobrol bisa berjalan beriringan dengan kemampuan menikmati waktu sendiri.
Nanti, ketika ada satu nama yang terlintas, coba buka percakapannya. Nggak perlu menyiapkan pembukaan yang sempurna atau meminta maaf panjang karena sudah lama menghilang.
“Hei, apa kabar? Minggu ini sempat ngopi?”
Kirim, lalu beri dia waktu menjawab. Urusan mau pesan kopi atau teh bisa dipikirkan belakangan.
